Blog

KELUARGA BUKAN HANYA (SEKEDAR) STATUS

Kalau bertemu dengan teman lama yang sudah lama tidak berjumpa atau selagi bersilaturahim dengan handai taulan, ada pertanyaan standar yang suka hadir, “Sudah punya anak berapa?” atau kalau dengan keluarga Sunda suka ada pertanyaan “Tos gaduh bati sabaraha?” seolah punya anak adalah sebuah keuntungan karena bermodalkan menikahi seorang perempuan. Ya, memiliki anak adalah suatu pencapaian. Tapi kalau ditafakuri, sebenarnya anak adalah ukuran kemampuan pengelolaan sekaligus kadar kemampuan memimpin seorang kepala keluarga.

Diamanahi 4 anak, dua laki-laki dan dua perempuan membuat saya merasa lengkap. Allah telah menitipkan amanah kepemimpinan dan rezeki yang cukup atas anak yang sudah dititipkan ini. Well, selanjutnya bagaimana? Melahirkan anak dan membesarkannya apakah sudah dianggap cukup?

Perhatikan kanan kiri di lingkungan kita, berbagai pengalaman hidup akan kita lihat pada beberapa kasus.

KASUS 1

Orang tua yang menganggap masa depan ekonomi sebagai sesuatu yang sangat penting akan menempatkan sekolah dan les les keterampilan sebagai pola yang harus diikuti oleh anak-anaknya. Di Bandung, orang tua jenis ini akan berusaha mengenalkan Kartu Glen Doman pada bayinya agar bisa segera mampu membaca. Memasukkannya ke SD Favorit, untuk warga Bandung katakanlah masuk ke SD Banjarsari atau Karang Pawulang, lanjut SMP 2 atau 5 terus lanjut ke SMA 3 dan berlabuh di ITB. Tidak dihitung berapa juta yang diinvestasikan untuk sebuah trek emas menuju sukses ini. Saya yakin banyak sekali keluarga yang memiliki paradigm ini. Mereka adalah kalangan menengah atas. Menganggap karier bagus sebagai tujuan hidup. Bekerja dengan gaji stabil menjadi ukuran kesuksesan.

KASUS 2

Ada juga keluarga yang menganggap keberhasilan mendidik anak ada pada penguatan akhlak. Maka yang menjadi favoritnya adalah sekolah sekolahIslam terpadu, mereka kurang percaya dengan pendidikan di sekolah negeri, karena dianggap terlalu sekuler. Setelah level TK dan SD, banyak yang memilih Pesantren sebagai sekolah tujuan. Ini kutub lain, keluarga yang biasanya menjadikan kemandirian dan kewirausahaan sebagai bekal untuk karier masa depan anak mereka.

Kasus 1 dan 2 adalah gambaran keluarga yang mampu memilih, memiliki dana yang dianggap cukup untuk memasukkan anak ke sekolah yang terhitung berbiaya mahal. Selain dua kelompok ini, ada kelompok besar masyarakat yang bahkan tidak memiliki sumberdaya yang cukup untuk memilih kemana anak mereka disekolahkan. Kondisi ekonomi yang terbatas menyebabkan mereka memilih sekolah murah atau gratis sebagai pilihan. Masa depan dan karir? Bisa terserap lapangan pekerjaan saja sudah cukup membahagiakan. Jika dihitung, inilah angka terbesar persentase masyarakat yang mengalaminya.

Jika kita ingin menarik lebih awal, kebijakan apa sebenarnya yang harus kita siapkan untuk memberikan arah dan pelayanan terbaik untuk seluruh  keluarga adalah dengan memberi arti yang lebih kuat pada kata Keluarga. Keluarga bukan hanya sekedar status, status beranak satu, dua, tiga, dan seterusnya. Tapi tentang bagaimana kepala keluarga menerima tanggungjawab pengelolaan dan kepemimpinan dalam keluarga. Ajaran islam berpesan tentang keluarga ini dengan menyatakan “jagalah dirimu, dan keluargamu dari api neraka” berarti tugas mulia yang pertama kali diemban adalah tujuan transcendental untuk menjaga sepanjang hayat agar keluarga tidak mengerjakan perbuatan yang pinarakaeun.

Jika dilihat dari kacamata pendidikan, maka pendidikan apa yang paling utama? So pasti adalah pendidikan agama yang mampu menjaga anak istri dari berbuat yang menyebabkan masuk neraka. Dimanakah pendidikan agama ini diberikan? Yang paling efektif adalah di keluarga. Diajarkan sejak anak dalam buaian, sepanjang hayat diterapkan dan ditauladankan. Maka dari sinilah akan lahir keluarga yang menjadikan Islam sebagai ruh dalam kehidupannya.

Dengan demikian apakah anda termasuk kelompok Kasus 1, Kasus 2, atau termasuk bagian dari kebanyakan masyarakat maka yang terpenting adalah sejauhmana kemampuan anda menghadirkan pendidikan agama yang paripurna di rumah. Agaknya buku Tarbiyatul Aulad fil Islam karya Syaikh Abdullah Nashih Ulwan dan yang sejenisnya cukuplah untuk dijadikan rujukan.

Ingat, keluarga bukanlah hanya sebagai status yang disandang seorang lelaki. Tapi ia adalah tanggung jawab yang akan menuntut kesiapan kita memikul beban sebagai seorang kepala keluarga, sebagai ayah, sebagai suami. Sudah berada pada jalur yang benarkah keluarga anda? Yuk saling belajar. [des2017]

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *