Bandungku

Transportasi Umum Kuyy!

Hari ini, sebagai akibat dari otomatisasi pabrikasi, pabrik kendaraan telah mampu memproduksi kendaraan roda 2 maupun roda 4 dalam hitungan menit. Akibatnya jutaan unit kendaraan dilepas di jalanan dalam waktu singkat. Ditambah semakin mudahnya skema kredit kendaraan bermotor menyebabkan masyarakat semakin banyak yang memiliki kendaraan. Semakin bertambahnya jumlah anggota keluarga memungkinkan sebuah keluarga memiliki lebih dari 1 kendaraan. Hal ini tidak sebanding dengan pertumbuhan panjang ruas jalan yang dibangun. Demikian pula kepemilikan kendaraan bermotor tidak sebanding dengan luas lahan parkir yang mereka miliki. Akibatnya, fenomena kemacetan menjadi masalah dimana-mana. Hampir semua kota besar menghadapi kenyataan bahwa kemacetan menjadi masalah yang sangat besar dan sulit diurai. Ditambah, keterbatasan lahan parkir menyebabkan kendaraan ‘berserakan’ dimana-mana membuat kondisi menjadi semrawut.

Sarana Transportasi Umum yang baik akan mendorong perubahan habit masyarakat

Para ahli transportasi memikirkan dalam-dalam bagaimana mengurangi kemacetan, beberapa eksperimen pernah dilakukan seperti dengan memberi syarat penumpang minimal (three in one), penetapan nomor ganjil genap, rekayasa jalan dan lain-lain. Pada akhirnya semua strategi tersebut membentur tembok karena kenyataannya jumlah kendaraan yang diproduksi tidak bisa dibendung. Jalan layang (fly over) dan underpass dibuat melingkar-lingkar untuk menghindari atau setidaknya mengurangi kemacetan. Jam-jam berangkat dan pulang kantor menjadi masa-masa paling krodit. Pernah ada pemerintah kota yang menetapkan jam berangkat sekolah sangat pagi, sehingga anak-anak sekolah berangkat ba’da shubuh. weleh-weleh.

Jadi, bagaimana sebenarnya cara mengatasi permasalahan tersebut yang masuk akal? Jawabannya –dan ini juga jawaban para pakar– adalah dengan mengubah habit masyarakat dari berkendaraan pribadi, untuk beralih ke transportasi umum. Ini perlu waktu yang lama karena ada kaitannya dengan mengubah kebiasaan dan persepsi masyarakat. Membiasakan masyarakat untuk memiliki habit jalan kaki dan naik transportasi publik.

Beberapa hal yang jalan keluar membangun habit tersebut adalah dengan:

  1. Memasukkan habit transportasi publik di pendidikan sekolah, mulai dari jenjang pendidikan dasar
  2. Memberi reward dan insentif bagi masyarakat pejalan kaki dan pemakai transportasi publik
  3. Memagari dengan peraturan yang membatasi kepemilikan kendaraan pribadi
  4. Mengistimewakan alat transportasi umum dalam kenyamanan dan keistimewaan akses jalan.
  5. Digitalisasi transportasi publik untuk kenyamanan, ketepatan waktu, dan keamanannya.

Langkah-langkah ini tentu saja akan semakin efektif jika ada contoh dan teladan dari para pejabat dan pemimpin kewilayahan. Otoritas resmi harus memiliki perhatian membentuk perilaku warganya. Sedikit-sedikit, secara bertahap. Insya Allah menjadi lebih baik.

[iher 3 Sep 2019]
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close