Bandungku

Madzhab Infrastruktur

Selasa, 3 September 2019 pagi hari, warga Bandung yang biasa melalui jalan Jakarta terkaget-kaget karena ada antrian yang panjang kendaraan di jalur ini. Macet total, hampir 3 jam kemudian baru kemacetan terurai dengan sendirinya bersamaan dengan berkurangnya arus pergerakan orang pergi sekolah dan kantor. Di radio dan medsos terpantau warga protes dan menyampaikan keluhan karena tidak ada pemberitahuan sama sekali mengenai rencana Groundbreaking Fly Over di hari itu. Setidaknya info hanya ada di kalangan terbatas. Padahal untuk Lomba Marathon aja pemberitahuan rutenya bisa seminggu sebelum perhelatan acara. Pembangunan yang lebih permanen tentu memerlukan pemberitahuan yang lebih baik.

Groundbreaking Fly Over di Jalan Jakarta – Jalan Supratman

Setidaknya pada periode September s.d. Desember 2019, jalur jalan Jakarta akan terganggu sementara karena fly over sepanjang 500 meter akan dibangun. Bersamaan dengan pembangunan fly over di Jalan Laswi-Jl Pelajar Pejuang. Tahun ini sampai 2020 rencananya akan ada 7 fly over yang merupakan proyek bantuan provinsi, pusat dan bantuan luar negeri. Yang jelas, bentang alam Kota Bandung akan berubah akan rame dengan fly over melambung-lambung. Tujuannya tentu saja untuk mengurangi kemacetan dengan mengurangi titik persimpangan kendaraan di pelbagai perempatan sibuk di Kota Bandung. Madzhab Infrastruktur memang seperti itu, bangun sebanyak-banyaknya untuk mempercepat pergerakan manusia. Biar ga banyak tumpukan. Monumental, orang akan melihat perubahan dengan cepat … tara kota Bandung sedang membangun.

Apakah akan membuat orang hepi? sebagian mungkin iya, terutama pemegang proyek pembangunan infrastruktur tersebut. Tiap fly over setidaknya memakan biiaya 40 Milyar tergantung panjangnya. Ada investasi jangka panjang disitu. Apakah akan mengubah keadaan? Macet akan berkurang? Sementara, tapi lama kelamaan macet akan datang lagi. Koq pesimis? yaeyalah .. mobil cepat bergerak artinya juga akan mempercepat tumpukan kendaraan diujung sana. Sejak adanya Jalan Layang Pelangi dari arah Antapani, di Bandung kendaraan cepat menumpuk di ujung jalan Jakarta mengarah ke perempatan Jalan Supratman.

Perempatan Jalan Jakarta- Jalan Supratman

Sebagai orang kampung, buat saya sih lebih nyaman kalo Bandung ga banyak jalan layang. Makin membingungkan dan tidak ramah saja. Mengubah kebiasaan orangnya akan lebih bijaksana dan berdampak lebih baik daripada merekayasa jalannya kendaraan. Teman saya yang ahli Antropologi mengatakan bahwa “Inilah kalo pembangunan hanya melibatkan orang teknik aja, tidak melibatkan ahli sosiologi antropologi, semuanya atas hitungan teknis”. Padahal, kalo kita berinvestasi jangka panjang dengan memperbaiki manusianya menjadi lebih beradab maka solusi kemacetan akan lebih manusiawi dan tidak berdampak terlalu besar terhadap perubahan fisik bumi. Jalanan yang penuh beton jelas kan membuat air tidak punya jalur untuk terserap ke bumi. Maka pilihannya adalah menggenang atau menimbulkan banjir. Sementara kalau manusianya yang dididik lebih beradab maka solusi akan ditemukan dengan lebih layak. Mengambil pendapat Anies Baswedan — Gubernur DKI Jakarta– bahwa yang terbaik manusia bergerak dengan kakinya yaitu berjalan kaki. Maka layani mereka dengan trotoar dan pedestrian yang nyaman dan baik, Beri insentif pertama. Setelah itu meningkat ke kendaraan tanpa polusi yaitu sepeda dan kendaraan listrik. Beri prioritasnya. Adapun untuk kendaraan yang menghasilkan polusi, maka utamakan moda yang bisa mengangkut orang banyak sekaligus. Bisa Bis atau Kereta dalam kota.

Manusia dikondisikan dengan kenyamanan berjalan kaki, naik sepeda atau moda umum (public transport). Dalam jangka panjang ini akan membangun bangsa yang berbudaya. Memang akan sulit karena perlu kerja keras di awalnya, tetapi cara ini akan ampuh sekali pada akhirnya. Masih berharap Pemerintah lebih aware dengan cara alamiah ini. Bersabar sedikit dengan pendidikan. Karena kata ahli hikmah, Pendidikan bukan segala-galanya, tetapi semua harus dimulai dari pendidikan. Allohu a’lam.

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close