Bandungku

Jabar Bahagia?

Baru-baru ini Lembaga Survey Instrat merilis hasil survey mereka ke 405 responden di Jawa Barat yang menyatakan bahwa berdasarkan index kebahagiaan, warga Jawa Barat adalah warga yang berbahagia. Survey ini dilakukan dalam rangka setahun Kepemimpinan RK-UU. Untuk yang biasa mengikuti perkembangan Gubernur Jabar sekarang, Ridwan Kamil survey ini akan membuat ketawa terkikik. Sejak menjadi Walikota Bandung, RK paling depan dalam memperkenalkan indeks kebahagiaan sebagai ukuran keberhasilan Kota. Alasannya membanyakkan taman di Kota Bandung juga untuk meningkatkan indeks kebahagiaan warga Kota Bandung. Lalu warga Bandung berseloroh, “Taman dipake keur mohokeun kasusah, pas kaluar ti taman sedih deui”, hehehe

Kalau ada survey indeks kebahagiaan di Jabar setelah 1 tahun kepemimpinan RK maka pertanyaannya adalah Koq surveynya jadi pindah ke Jabar? Koq lembaga survey ini? Diketahui .. Instrat adalah lembaga Timses RK ketika kampanye kemarin. Ibarat independensi mah, Instrat gak bakalan independen. Masalah lain adalah keabsahan surveynya, seorang netizen, Arief Anshory Yusuf menyoroti masalah ini, mungkinkah survey ke 405 orang responden bisa mencerminkan kondisi warga Jabar yang jumlahnya 49 juta orang? Sedangkan di 2 tahun sebelumnya (2017) BPS melakukan penelitian yang sama menggunakan sampel sejumlah 5770 responden untuk di Jabar dan hasilnya adalah Jabar masuk dalam kelompok Provinsi yang tidak bahagia. Pertama, jumlah responden tidak memadai, kedua apakah 2 tahun bisa mengubah Jabar yang masuk kelompok paling tidak bahagia menjadi Provinsi paling bahagia. Sedangkan di provinsi lain juga mungkin sudah tumbuh lebih tinggi di banding Kota Bandung.

Jikapun survey Instrat menemukan bahwa 90% warga Jabar bahagia, apakah ini ada hubungannya dengan kinerja RK-UU dalam memimpin di Jawa Barat? Sulit diperbandingkan, apalagi kalau kita memakai patokan bahwa kebahagiaan masyarakat ada kaitannya dengan tingkat penghasilan, kelancaran kendaraan di jalan, harga beras dan lain-lainnya. Sedangkan kalau kita jalan-jalan dan banyak berbincang dengan masyarakat, kita akan menemukan bahwa menurut pandangan mereka sekarang zaman yang lebih sulit dari sisi ekonomi mana mungkin bisa bahagia?

Mencoba mencari tahu dari penduduk langsung, pendapat mereka akan lain koq

Pemerintah belum berhasil menciptakan lapangan pekerjaan yang cukup untuk masyarakat, bahkan sektor ekonomi yang dianggap mampu bertahan dan mewarnai 70% kegiatan perekonomian masyarakat adalah UMKM yang tidak terkait dengan regulasi Pemerintah dan tidak pula mengakses perbankan. Penjual gorengan yang hanya menggulirkan modal sebesar 200 ribuan seharinya tidak tersentuh oleh kebijakan Pemerintah. Artinya, bahagia atau sedihnya mereka tidak terkait dengan keberhasilan pemerintahan baik walikota atau gubernur. Kalangan lain yang harus dicek adalah kaum ibu yang merasakan langsung dampak naik dan turunnya penghasilan, pengakses langsung segala fasilitas pendidikan dan kesehatan yang telah disediakan oleh Pemerintah. Jika ditanya kepada mereka, apakah layanan pendidikan dan kesehatan dari Pemerintah sudah memenuhi harapan mereka dalam kemudahan aksesnya, maka 70-80% akan mengatakan masih kurang. Kegiatan advokasi dan layanan kesehatan yang non Pemerintah masih diburu untuk memenuhi kebutuhan mereka akan layanan kesehatan.

pemeriksaan kesehatan gratis

Jadi, kesimpulan survey yang dilakukan membuat kita mengerutkan kening karena rasanya tidak memenuhi gambaran yang ditemukan langsung di masyarakat. Lain kali survey seperti ini harus diujipublikan di hadapan para pakar. Kalau mengikuti peribahasa “Daripada mengutuki kegelapan, lebih baik menyalakan lilin” akan lebih baik elemen-elemen masyarakat memberikan sumbangsih dan gerakan untuk mengangkat angka indeks kebahagiaan masyarakat agar mudah mewujud. Acara-acara inisiatif sekelompok masyarakat yang didorong oleh kader PKS dengan menyelenggarakan Sekolah Ibu di lingkungan ibu-ibu perlu mendapatkan apresiasi. Mereka merintis dengan kesederhanaan, mengumpulkan warga se RT untuk memberikan pembinaan dan pemberdayaan, berkumpul untuk bertukar pikiran bagaimana meningkatkan kualitas mereka sendiri dan kualitas masyarakat. Selain pemeriksaan kesehatan, ada kegiatan peningkatan keterampilan, pencerahan keagamaan, materi parenting, bahkan urusan rihlah bersama dengan mengunjungi taman dan tempat wisata yang murah meriah. Sebetulnya, bagi ibu-ibu, bisa berkumpul bersama sesamanya dan bersosialisasi sudah cukup memberikan kebahagiaan.

Sekolah Ibu di wilayah Kacapiring Kota Bandung

Pengembangan kegiatan seperti sekolah ibu ini adalah sesuatu yang menarik untuk memberikan sentuhan pemberdayaan pada level mikro, jika mungkin program-program pemberdayaan dari pemerintah juga bisa disampaikan di forum ini, selain kegiatan PKK atau Posyandu yang telah hadir lebih dulu. Sekolah Ibu cukup paripurna, karena urusannya cukup banyak dan ada keseimbangan antara mariil dan spirituiil. Ibu-ibu sebagai objek sekaligus subjek dalam mengupayakan pembangunan keluarga yang seimbang akan memberikan efek bola salju pada kondisi sosial sebuah masyarakat.

Kembali ke pertanyaan, apakah warga Jabar sudah berbahagia? Sentuhan-sentuhan tangan para aktivis di masyarakat ini sangat penting perannya, mereka membersamai secara langsung masyarakat untuk berusaha menjadi lebih baik lagi kondisinya.

Sharing Pemikiran

Pemerintahan Kota maupun Provinsi baru berjalan sekitar 1 tahun, ada kesempatan untuk segera meng-adjust kebijakan yang kurang searah menjadi lebih baik dan mengkatalisasi proses pemberdayaan masyarakat. Pembinaan sumberdaya manusia lebih penting dari pengembangan infrastruktur terlebih dahulu. Hendaknya infrastruktur yang dibangun benar-benar karena sudah sangat dibutuhkan oleh masyarakat dan akan merangsang pembangunan masyarakat menjadi lebih cepat lagi.

Ada banyak wilayah kumuh di perkotaan dengan penduduk yang padat perlu mendapatkan sentuhan-sentuhan. Setiap individu warga kota adalah individu yang unik, jika mendapatkan sentuhan sesuai dengan fitrahnya maka akan memberikan hasil yang lebih baik. Masyarakat akan dengan senang hati ikut berkontribusi bagi pembangunan sepanjang memahami bahwa apa yang mereka kontribusikan hari ini akan mempengaruhi nasib di kemudian hari. Kalau bukan untuk mereka sendiri, bisa pula untuk anak dan keturunan mereka. Allohu a’lam

Tags
Show More

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close
Close